Teknik Plesteran Khusus untuk Bata Ringan Agar Tidak Retak

Teknik Plesteran Khusus untuk Bata Ringan Agar Tidak Retak

Plesteran Untuk Bata Ringan – Bata ringan semakin populer penggunaannya dalam pembangunan rumah dan gedung modern.

Material ini jadi pilihan karena bobotnya ringan, pemasangannya cepat, serta hasil dinding lebih rapi daripada bata merah biasa.

Akan tetapi pemakaian dari komponen bahan bangunan ini juga memiliki tantangan tersendiri, terutama pada bagian plesteran.

Banyak kasus di lapangan menunjukkan plesteran mudah retak, baik berupa retak rambut kecil maupun retakan besar yang mengganggu tampilan dan kekuatan dinding.

Dalam memahami teknik plesterannya pada bata ringan memang menjadi hal penting supaya hasilnya lebih awet dan tidak menimbulkan masalah pada kemudian hari.

Melalui artikel kali ini akan menjelaskan lebih lanjut mengenai berbagai tekniknya agar tidak mudah retak. Jadi, untuk selengkapnya bisa simak artikel ini sampai habis.

Berbagai Teknik Plesteran Khusus untuk Bata Ringan Supaya Tidak Retak

Berbagai Teknik Plesteran Khusus untuk Bata Ringan Supaya Tidak Retak

Bata ringan memiliki sifat berbeda dengan yang jenisnya merah, terutama karena lebih ringan dan memiliki pori-pori besar.

Hal ini membuat plesteran untuk bata ringan tidak bisa melakukannya secara sembarangan. Jika teknik salah, dinding mudah retak bahkan mengelupas.

Berikut ini beberapa tekniknya agar tidak mudah retak yaitu:

1. Pakai Perekat Khusus Bata Ringan

Perekat bata ringan atau mortar instan lebih baik daripada adukan semen biasa. Perekat ini memiliki daya rekat tinggi sehingga mampu mencegah retak pada plesteran.

2. Lakukan Pengacian dengan Campuran Tepat

Campuran adukan harus seimbang antara semen, pasir, dan air. Karena campuran yang terlalu banyak air akan membuat plesteran rapuh.

Sebaliknya, campuran terlalu kering akan sulit menempel dengan baik.

3. Basahi Permukaan Bata Sebelum Plesteran

Bata ringan mudah menyerap air. Jika dinding tidak membasahinya, adukan akan cepat kering dan tidak menempel dengan sempurna.

4. Pakai Kawat Ayam atau Jaring pada Sambungan

Pada area sambungan antara dinding bata ringan dengan kolom beton, sering muncul retak rambut. Untuk mengatasinya, pasang kawat ayam atau jaring serat fiber pada area sambungan sebelum memplesternya.

5. Aplikasikan Plesteran Bertahap

Hindari plesteran dengan lapisan tebal sekaligus. Aplikasikan plester secara bertahap dengan ketebalan 1 sampai 1,5 cm per lapisan.

Lapisan tipis akan lebih kuat, rata, dan tidak mudah retak daripada plester tebal.

6. Gunakan Bahan Aditif Khusus pada Campuran

Tambahkan bahan aditif seperti waterproofing atau bonding agent ke dalam adukan. Bahan aditif tersebut berfungsi meningkatkan daya ikat, menahan kelembaban, dan membuat plesteran lebih elastis sehingga tahan retakan.

7. Lakukan Perawatan Setelah Plesteran

Perawatan atau curing sangat penting setelah plesteran selesai. Siram permukaan dinding dengan air secara rutin selama 3 sampai 7 hari.

8. Pakai Tukang yang Berpengalaman

Teknik plesteran untuk bata ringan membutuhkan keahlian khusus. Tukang yang berpengalaman tahu cara mencampur adukan, mengaplikasikan lapisan, sampai melakukan finishing.

Apa Saja Penyebab Plesteran Bata Ringan Mudah Retak?

Apa Saja Penyebab Plesteran Bata Ringan Mudah Retak?

Bata ringan memang memiliki banyak keunggulan, seperti bobot yang ringan dan pemasangan cepat. Namun salah satu masalah yang sering muncul adalah plesteran yang mudah retak.

Agar lebih waspada, berikut ini ada beberapa penyebab utama plesteran bata ringan mudah retak yaitu:

1. Campuran Plesteran Tidak Sesuai

Salah satu penyebab paling umum adalah campuran adukan yang tidak seimbang. Jika semen terlalu sedikit, plesteran tidak kuat. Sebaliknya jika air terlalu banyak, adukan jadi rapuh.

2. Tidak Menggunakan Perekat Khusus

Bata ringan memiliki pori-pori besar sehingga butuh perekat khusus. Jika hanya menggunakan semen dan pasir biasa, daya rekat kurang kuat. Akibatnya, plester mudah mengelupas dan retak.

3. Permukaan Bata Tidak Basah

Bata ringan cepat menyerap air. Jika permukaan tidak membasahinya sebelum diplester, air dari adukan langsung terserap. Plesteran jadi kering terlalu cepat dan mudah retak.

4. Perbedaan Material pada Sambungan

Retakan sering terjadi pada pertemuan antara bata ringan dengan kolom beton atau balok. Hal ini penyebabnya karena perbedaan sifat muai dan susut dari kedua material tersebut.

5. Lapisan Plester Terlalu Tebal

Aplikasi plester dengan lapisan tebal bisa membuat daya rekat tidak kuat. Plesteran akan mengalami penyusutan yang tidak merata dan memunculkan retak rambut.

6. Proses Pengerjaan Terlalu Cepat

Pengerjaan yang terburu-buru tanpa perataan sempurna membuat adukan tidak menempel merata. Ketika kering, plesteran jadi tidak kuat dan mudah pecah.

7. Tidak Ada Perawatan Setelah Plesteran

Plesteran perlu perawatan atau penyiraman air secara rutin setelah memasangnya. Jika tidak melakukan curing, adukan mengering cepat dan menimbulkan retak.

8. Faktor Lingkungan dan Getaran

Lingkungan yang terlalu panas atau adanya getaran dari lalu lintas bisa memengaruhi kekuatan plesteran. Kondisi ini menyebabkan lapisan mudah retak meski bahan sudah bagus.

Pentingnya Menggunakan Tukang Bangunan untuk Mengaplikasikan Plesteran Bata Ringan

Pentingnya Menggunakan Tukang Bangunan untuk Mengaplikasikan Plesteran Bata Ringan

Plesteran pada dinding bata ringan membutuhkan keterampilan khusus agar hasilnya tidak mudah retak dan bisa bertahan lama.

Banyak orang mencoba melakukannya sendiri untuk menghemat biaya, tetapi sering kali hasilnya kurang memuaskan.

Oleh karena itu, berikut ini beberapa alasan pentingnya menggunakan tukang bangunan untuk mengaplikasikan plesteran bata ringan yaitu:

1. Memahami Komposisi Adukan yang Tepat

Tukang berpengalaman tahu perbandingan ideal antara semen, pasir, dan air. Hal ini memastikan adukan plesteran lebih kokoh dan tidak mudah retak.

2. Menguasai Teknik Plesteran Khusus untuk Bata Ringan

Bata ringan memiliki karakter berbeda dengan jenis bata merah. Tukang bangunan mengerti cara aplikasi yang sesuai agar plester menempel lebih baik.

3. Menggunakan Alat yang Tepat

Tukang profesional memiliki peralatan yang memadai. Dengan alat yang tepat, hasil plesteran lebih rapi dan ketebalannya merata.

4. Mengetahui Cara Perawatan Setelah Plesteran

Setelah dipasang, plesteran butuh perawatan atau curing. Tukang akan menyiram dinding sesuai kebutuhan sehingga tidak mudah pecah.

5. Mengatasi Permukaan yang Sulit

Pada pertemuan dinding dengan kolom beton, sering muncul retakan. Tukang tahu cara mengantisipasi dengan pemasangan jaring atau bahan tambahan.

6. Meningkatkan Efisiensi Waktu Pengerjaan

Tukang yang berpengalaman bisa bekerja lebih cepat tanpa mengurangi kualitas. Hal ini membantu proyek selesai sesuai jadwal.

7. Mengurangi Risiko Biaya Perbaikan

Jika plesteran melakukannya secara asal-asalan, retakan bisa muncul dan perlu perbaikan tersendiri. Dengan tukang profesional, risiko ini bisa menekannya dengan baik.

8. Hasil Akhir Lebih Estetik

Tukang mampu menghasilkan plesteran yang halus, rata, dan siap untuk tahap finishing. Dinding pun terlihat lebih rapi dan indah.

Penutup

Plesteran untuk bata ringan membutuhkan teknik khusus agar hasilnya tidak retak dan lebih tahan lama.

Pada saat ini tersedia informasi menarik mengenai jasa tukang bangunan yang profesional dan berkualitas tinggi. Untuk selengkapnya bisa tanya-tanya atau konsultasi melalui Whatsapp berikut ini.